CATATAN JURI ANUGERAH KPID SUMBAR 2022

Homodigitus dan Kreativitas yang Tergesa-gesa

Dr. Abdullah Khusairi, MA

Kreativitas dan kualitas sebuah tontonan-siaran akan membangun kepercayaan publik terhadap program televisi-radio. Kreativitas dalam produksi materi informasi hanya akan mengguncang bila memiliki daya tarik, relevan (relevante) dan kesan yang tinggi (impresi) di hadapan publik. Kualitas dari packaging setiap episode harus mengandung kebaruan (actuality), keunikan (unieqly) menjauhi kesan monoton. Fatsoen ini merujuk News Value Theory dalam jurnalisme yang menuntut kesegaran dalam setiap pesan pada tontonan siaran.

Setelah mendengar dan menonton seluruh materi terpilih untuk menentukan nilai tertinggi dalam Ajang Anugrah Komisi Penyiaran Independen (KPI) Daerah Sumatera Barat 2022, kesan yang sangat kuat untuk keseluruhan materi, masalah utama produk kepenyiaran ada pada kreativitas dan kualitas! Dalil penting yang sering dilupakan oleh awak media dalam melakukan seleksi materi produksi kepenyiaran adalah: media massa adalah guru bangsa yang harus lebih cerdas dari anak bangsa. Bagaimana mungkin bisa berterima antara guru yang tidak lebih cerdas dari anak bangsa? Sulit terjadi, bila seorang murid lebih cerdas dari guru.

Tentu saja pernyataan di atas bisa digugat dengan beberapa argumen, mengingat ada hal penting yang harus dipertimbangkan antara teori dan praktek di dunia media. Ilmu Komunikasi Massa memang selalu terlambat mengkaji dan memberi teori baru di tengah kecepatan teknologi informasi membawa abad yang terus berlari.

Pun kita tahu, media massa kini sudah tidak sendiri lagi. Media massa sudah dihadapkan pada kenyataan dengan media baru (new media). Sesuatu yang membuat publik bisa memilih lebih banyak, lebih baik, dari suguhan media massa. Bukankah di new media, siapapun bisa memproduksi tanpa terikat dengan pakem-pakem produksi normatif yang sering kali menutup celah kreatif dan selalu menuntut kecepatan serta ketergesaan?

Mari kita diskusikan, betapa berat tantangan antara di dalam diri awak media, manajemen media dengan hal-hal baru di luar dirinya. Bergandeng tangan atau berhadapan. Saling melengkapi atau kalah dalam percaturan kemajuan teknologi informasi di era digital? Awak media sudah memilih, tetap melakukan produksi dengan rutinitas yang membunuh kreativitas. Inilah yang sering kali disadari tetapi tidak ditepis. Awak media abai dan tidak merasa perlu mengasah lebih tajam mencari dan melewati kreativitas tingkat tinggi homodigitus bernama content creator!

Tak perlu membenci tulisan ini, sebab ini lahir dari rasa khawatir yang tinggi atas persoalan di dalam diri dan di luar diri media massa. Kekhawatiran tersebut beralasan, sejak KPI terus mendengung "tontonan menjadi tuntunan" di tengah era banjir informasi di new media. New media bukanlah musuh bersama (common enemy) tetapi publik yang beralih karena egoisme media massa selama ini memegang kuasa publik. Kini kuasa itu sudah di tangan homo digitus, yang itu, kita juga. Hanya sedikit di luar kita namun membawa sesuatu yang lebih menarik walaupun belum tentu mendidik.

Kita punya harapan besar, ketika digitalitas masuk ke ruang kehidupan. Memudahkan segala bentuk pesan tersampaikan secara realtime secara kuantitas dan disadari secara kritis, kualitas dan kebenaran di dalamnya sering diragukan. New media meninabobokan publik dalam pesta kedangkalan informasi tetapi begitu cepat sampai ke bilik-bilik private. Harapan itu bernama kualitas! Berangkat dari dalam diri awak media massa dan lembaga media massa untuk mengubah perspektif dalam menghidangkan informasi kepada publik. Melalui itu, homodigitus akan tersadarkan tentang kedalaman dan kebenaran dalam satu paket produks dengan estetika dan etika yang layak tonton-dengar dengan menghasilkan decak kagum.

Semua itu kembali ke awak media, manajemen media massa dan lembaga media massa. Inginkah berubah dan berjuang, memodali, meningkatkan kapasitas awak media, memberi ruang kreatif yang lebih, serta bersetia teguh dalam dalil idealisme dari segala bentuk godaan materialisme-pragmatisme. Idealisme-Komersialisme umpama sayap bagi media massa yang menjaga keseimbangan perjalanan informasi ke ruang publik. Keduanya tidaklah adil jika diberi ruang lebih kepada salah satunya. Jika itu terjadi, bersiaplah untuk sesuatu terjadi. Idealisme semata akan menuntut mental bersiap untuk lapar, komersialisme semata bersiaplah ditinggalkan publik. Sebab media massa pada dasarnya adalah berjuang untuk mendapatkan kepercayaan (trust) publik. Tanpa kepercayaan publik, media hanyalah lembaga ekonomi tanpa taji mengubah peta jalan peradaban ummat.

Menjadi juri dalam anugrah kali ini, dihadapkan beberapa problema dimana kategori kategori yang disiapkan memerlihatkan betapa rutinitas itu membunuh kreativitas serta menggeser kualitas segera ke tepi. Menyakitkan memang. Sungguhpun begitu, Program Siaran Radio dan Televisi, kategori Program Berita Terbaik, Talkshow Terbaik, Feature Terbaik, Program Anak, Iklan Layanan Masyarakat, Siaran Religi Terbaik, Program Budaya Lokal Terbaik, telah terpilih dengan kenyataan persaingan ketat di antara materi yang dinilai.

Pengalaman dari menilai materi-materi ini, adalah penting diungkapkan; dimana kesadaran atas kreativitas tingkat tinggi dan kualitas tingkat tinggi bagi kita sebagai awak media untuk selalu diingat. Perlu daya tarung untuk meningkatkan kapasitas personal, keberanian berubah, serta kemauan tim untuk berubah dalam mencari perspektif baru dalam produksi program siaran. Jangan berhenti untuk selalu ada sesuatu yang baru (novelty), manjakanlah publik dengan materi program siaran yang punya sisi lain, dengan nilai unieqly, prominen, proximity, yang terukur dan luar biasa mengandung minat insani publik.

Terakhir, selamat kepada yang telah beruntung, menang pada tahun ini. Semoga tahun depan, secara kreativitas dan kualitas kita tidak lagi menyuguhkan ketergesa gesaan. Bagaimanapun juga, publik menunggu yang terbaik, menarik dan relevan. Kata paling sederhana hari ini yang lekat di kepala homodigitus, content yang mampu viral! Meninggalkan diksi lama yang sempat teragung-agungkan, rating, oplah, share dan sebagainya. Ayo, mari lebih kreatif demi tontotan yang menjadi tuntutan dengan kualitas lebih tinggi dari tahun ini. Salam!

Dr. Abdullah Khusairi, MA

Dosen Komunikasi Massa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK), Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang.