Membangun Mahligai Rumah Tangga Bahagia

Oleh Yal Aziz
MEMBANGUN rumah tangga merupakan  kerja sama antara suami dan istri. Untuk membangun mahligai rumah tangga bahagia, memang tidak semudah membalik telapak tangan, tapi butuh pengerobanan, terutama pengorbanan perahaan. Kenapa? Karena ada dua pendapat tentang visi dan misi suami dan istri dalam rumah tangga tersebut. 

Yang jelas untuk membina rumah tangga yang bahagia itu bisa dibilang gampang-gampang susah. Soalnya, untuk meraihnya membutuhkan peran dari pasangan itu sendiri untuk mencapai tujuannya dalam berumah tangga. 

Setelah menikah dan menjalani rumah tangga terkadang ada yang tak sesuai dengan harapan kedua pasangan siami istri. Bahkan ada yang berpendapat limat tahun pertama pernikahan adalah awal yang berat. Kenapa demikian? Bukannya sebelum menikah sudah saling mengenal satu sama lain? Dan selama pacaran hubungan baik-baik saja. Jawabannya adalah karena kehidupan selama pacaran dan setelah menikah itu berbeda.

Begitu telah menikah dan berumah tangga, kedua pasangan tersebut dituntut bukan hanya sekedar kesetiaan dan kebersamaan, tapi lebih dari itu. Maksudnya, kedua belah pihak sudah punya tanggung jawab, dan masing-masing pasangan ada perannya sendiri.

Istri merupakan komponen tak terpisahkan dalam sebuah keluarga yang memiliki peranan tak kalah penting dari seorang suami. Terlepas dari kontroversi mengenai bagaimana seharusnya seorang istri menghabiskan waktunya, berkarier di luar atau mengurus rumah dan keluarga, seorang istri akan menjadi ibu sekaligus sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Karena itu, Islam mengajarkan suami untuk sebisa mungkin mencukupi semua kebutuhan istri karena tugas yang diemban istri sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya sangat jauh dari kategori ringan. Dengan fasilitas memadai semacam itulah, istri diharapkan dapat memaksimalkan perannya sebagai pendamping suami maupun mentor bagi anak-anaknya. Salah satunya juga membangun rumah tangga dalam islam yang selalu di ridhoi Allah agar mendapatkan berkahNya.

Di balik peran dan hak tersebut, seperti halnya suami, istri juga mengemban kewajiban terhadap suami yang harus ia penuhi. Ini juga diatur cukup detail dan rinci dalam beberapa sumber ajaran Islam mulai dari Al-Qur’an, hadis hingga pendapat para ulama’ yang tak jarang berbeda satu sama lain.

Hal yang demikian sedikit banyak menyiratkan pembagian kerja yang fair antara suami dan istri, posisi dan fungsi masing-masing yang saling melengkapi serta keharusan memiliki visi yang sama untuk menciptakan keluarga bahagia dan kondusif untuk tumbuh kembang anak. Singkatnya, selain memiliki beberapa hak yang harus ditunaikan suami, istri juga memiliki kewajiban terhadap suami yang tak bisa ia abaikan. 

Istri diwajibkan selalu ta’at pada suami kecuali dalam hal-hal yang melarang aturan agama dan atau kesusilaan. Ini khususnya berlaku ketika suami menyuruh istri untuk melaksanakan shalat, melakukan ibadah dan melaksanakan kewajiban lain seperti memenuhi undangan, menutup aurat dan lain sebagainya.

Adapun dalam hal-hal lain yang sifatnya relatif dan bisa dibincangkan bersama, istri seharusnya selalu meminta pendapat suami setiap akan membuat keputusan dan langkah dalam hidupnya, semisal terkait dengan pekerjaan, karier, keluarga, pendidikan anak dan lain sebagainya.

Dengan demikian, kewajiban ta’at di sini tidaklah menggunakan paradigma up dan down khususnya untuk hal-hal yang sifatnya optional, akan tetapi lebih merupakan ajaran untuk melibatkan suami dalam pengambilan keputusan-keputusan penting. Tentu saja dalam proses semacam itu, baik suami maupun istri sama-sama menyuarakan pendapatnya sehingga keputusan yang diambil dapat representatif dan tidak merugikan pihak manapun. 

Rumah tangga bahagia, tak hanya membuat suasana nyaman dan aman, tetai juga membuat generasi yang lahir dari tangga bahagia tersebut punya sumbangsih terhadap bangsa dan negara. Untuk itu, jadilah siami istri yang baik, karena rumah tangga bahagia akan melahirkan genarasi yang baik dan sesuai tuntunan agama ISlam. (Penulis wartawan tabloidbijak.com)

.